Evaluasi pembelajaran matematika

EVALUASI PENDIDIKAN NON TES
A. PENGERTIAN EVALUASI PENDIDIKAN NON TES
Evaluasi Pendidikan Non Tes adalah alat ukur pendidikan yang dilakukan tanpa melakukan tes yang pad prinsipnya adalah pemberian jawaban atas dasar relevansi dan bentuk laporan yang berasal dari pendapat pribadi siswa setelah mengarjakan tugas yang diberikan. Dengan jenis – jenisnya :
1. Observasi (Observation)
2. Kuesioner (Questionaire)
3. Wawancara (Interview)
4. Skala (rating scale)
5. Sosiometri (Socyometry)
6. Ceklis (check list)
7. Portopolio
8. Bentuk Laporan

B. JENIS-JENIS EVALUASI PENDIDIKAN NON TES
1. Observasi (Observation)
Observasi merupakan pengamatan yang teliti dan sistematis terhadap suatu objek. Melalui observasi, seorang guru atau tenaga pendidikan lainnya dapat mengetahui tingkah laku non verbal dari pada siswa atau kegiatan program pendidikan lainnya. Observasi dapat dibedakan atas dua bentuk yaitu :
a. Participant observation
Yaitu secara teratur pengamat terlibat langsung dalam program atau kegiatan yang diamati.
b. Non participant Oservation
Yaitu pengamat tidak terlibat langsung atau tidak ikut serta dalam kegiatan yang diamati

2. Kuesioner (Questionaire)
Kuesioner adalah suatu rangkaian pertanyaan yang berhubungan dengan objek yang dinilai dengan maksud untuk mendapatkan data atau informasi. Kuesioner sering juga disebut dengan angket.
Jenis-jenis kuesioner :
Kuesioner dari segi isi dapat dibedakan atas 4 bagian yaitu:
• Pertanyaan fakta adalah pertanyaan yang menanyakan tentang fakta antara lain seperti jumlah sekolah, jumlah jam belajar, dll.
• Pertanyaan perilaku adalah apabila guru menginginkan tingkah laku seseorang siswa dalam kegiatan di sekolah atau dalam proses belajar mengajar.
• Pertanyaan informasi adalah apabila melalui instrument itu guru ingin mengungkapkan berbagai informasi atau menggunakan fakta.
• Pertanyaan pendapat dan sikap adalah kuesioner yang berkaitan dengan perasaan, kepercayaan predisposisi, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan objek yang dinilai.

Kuesioner dari jenisnya dapat dibedakan atas 3 yaitu :
• Tertutup, kuesioner yang alternative jawaban sudah ditentukan terlebih dahulu. Responden hanya memilih diantara alternative yang telah disediakan.
Kebaikan kuesioner tertutup adalah :
a. Alternatif jawaban instruktur sama antara yang satu dengan yang lainnya.
b. Mudah diproses
c. Dapat dibandingkan jawaban antara satu responden dengan yang lain.
d. Sedikit jawaban yang kurang relevan.
e. Responden lebih mengerti tentang arti pertanyaan, karena dibantu oleh alternative jawaban yang disediakan.
f. Responden lebih mudah menjawabnya.
g. Mudah dilaksanakan.
h. Mudah diberi kode.
Kelemahan kuesioner tertutup adalah :
a. Membatasi diri individu untuk menyatakan pendapat dan kadang – kadang seakan – akan dipaksa untuk memilih jawaban yang tidak sesuai dengan dirinya.
b. Mudah diterka
c. Banyak membutuhkan waktu dan fasilitas
d. Perbedaan interpretasi tentang pertanyaan tak dapat diketahui. Perbedaan jawaban dari responden menjadi hilang dengan menciptakan situasi arti visial dan respon yang terbatas.

• Terbuka, kuesioner ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang sesuatu yang ditanyakan sesuai dengan pandangan dan kemampuannya. Alternative jawaban tidak disediakan. Mereka menciptakan sendiri jawabannya dan menyusun kalimat dalam bahasa sendiri
Kebaikan kuesioner terbuka adalah :
a. Sebagai persiapan untuk pertanyaan – pertanyaan tertutup.
b. Individu dapat menjawab menurut keadaan dan kemampuan yang sebenarnya.
c. Memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir penalaran dan kreativitas dari siswa / mahasiswa.
d. Sangat bermanfaat untuk menagantisipasi respon yang luas dan kompleks.
Kelemahan kuesioner terbuka adalah :
a. Sulit diberi kode karena jawaban yang diberikan sangat bervariasi dan beraneka ragam, terhadap pertanyaan yang sama.
b. Sukar dianalisis.
c. Banyak jawaban – jawaban yang kurang relevan.
d. Data tidak seragam dan tidak standar.
e. Membutuhkan keterampilan menulis dan melahirkan pendapat.
f. Waktu yang dibutuhkan lebih lama dari kuesioner tertutup dalam aspek yang sama.
• Tertutup dan terbuka, kuesioner ini merupakan gabungan dari kedua bentuk yang telah dibicarakan. Yang berarti bahwa dalam bentuk ini, disamping disediakan alternative, diberi juga kesempatan keoada siswa/mahasiswa untuk mengemukakan alternative jawabannya sendiri, apabila alternative yang disediakan tidak sesuai dengan keadaan yang bersangkutan.

Kuesioner dari segi yang menjawab dapat dibedakan atas 2, yaitu :
• Kuesioner langsung, yaitu kuesioner yang langsung dijawab/diisi oleh individu yang akan diminta keterangannya.
• Kuesioner tidak langsung, yaitu kuesioner yang diisi oleh orang lain, (orang yang tidak diminta keterangannya).

Kuesioner dari sisi bagaimana kuesioner itu diadministrasikan pada responden dapat dibedakan atas 2, yaitu :
• Kuesioner yang dikirimkan (Mail Questionaire)
• Kuesioner yang dapat dibagikan langsung pada responden.
Hal – hal yang peru diperhatikan dalam menyusun kuesioner,
1. Apa tujuan yang diungkapkan
2. Bagaimanakah bentuk pertanyaan yang akan digunakan?
3. Apakah kisi – kisi yang disusun telah mewakili wawasan, pengetahuan atau sikap yang ingin diungkapkan?
4. Bagaimanakan pertanyaan disusun dan bagaimanakah validitas dan reabilitasnya?
5. Bagaimana pengadministrasiannya?
6. Bagaimana cara pengolahannya?

Langkah-langkah menyusun kuesioner :
1. Gunakan bahasa yang baik dan benar
2. Nyatakan pertanyaan dengan jelas dan spesifik
3. Hindari pertanyaan yang panjang dan kabur
4. Jangan apriori mengasumsikan bahwa individu yang dinilai mempunyai informasi factual atau mempunyai pendapat dari tangan pertama
5. Tentukan terlebih dahulu apakah akan menggunakan pertanyaan langsung atau pertanyaan tidak langsung
6. Tetapkan terlebih dahulu apakah akan dibutuhkan pertanyaan umumm atau khusus
7. Tetapkan apakah akan digunakan pertanyaan terbuka atau pertanyaan tertutup
8. Lindungi ego siswa/individu yang dinilai dengan mengajukan pertanyaan yang tidak melibatkan dirinya
9. Hindari kata-kata yang meragukan atau yang tidak berguna
10. Setiap butir pertanyaan hendaklah dinyatakan dengan ringkas, jelas dan utuh.
11. Susun pertanyaan yang tidak memaksa atau mengarahkan siswa untuk menjawab ke satu arah
12. Hindari kata-kata yang bersifat emosional dan sentimental
13. Dalam setiap pertanyaan hanya terdapat satu konsep atau satu ide yang ditanyakan
14. Tanyakan dulu yang lebih sederhana dan kemudian secara bertahap menjadi lebih kompleks
15. Jangan jawaban dipengaruhi oleh gaya bahasa atau bentuk jawaban tertentu.
16. Andaikata ingin menanyakan sesuatu yang bersifat spesifik dalam suatu butir instrument sebaiknya kata-kata itu digarisbawahi
17. Kategori respon hendaklah mudah dipahami
18. Usahakan pengetikan dan perbanyakan yang baik dan bersih sehingga mudah dibaca
19. Upayakan perwajahan kuesioner menarik perhatian siswa yang dinilai.
20. Jangan lupa memberi pengantar dan menunjukkkan criteria dan patokan-patokan yang digunakan.

3. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah proses interaksi antara pewawancara (interviewer) dengan yang diwawancarai (interviewee) melalui langsung atau dapat juga dikatakan sebagai proses percakapan tatap muka antara interviewer dengan interviewee dimana pewawancara bertanya tentang sesuatu aspek yang dinilai dan telah dirancang.
Pewawancara hendaklah memiliki :
• Kemampuan dan keterampilan dalam berkomunikasi
• Kemampuan dalam memahami dan menerima pernyataan dan ide orang lain
• Rasa aman dan percaya diri
Yang diwawacarai (interviewee) hendaklah mempunyai:
• Kemampuan memahami dan menagkap pertanyaan
• Kemmpuan dalam menyatakan pendapat
• Rasa aman dan percaya diri
Isi atau materi wawancara :
• Tingkat kesukaran
• Kesensitifan materi pertanyaan
• Luasnya materi wawancara
Situasi wawancara
• Waktu pelaksanaan
• Tempat pelaksanaan
• Situasi lingkungan
Keempat aspek itu akan saling berinteraksi dalam menopang pencapaian tujuan wawancara.

Jenis-jenis wawancara:
1. Wawancara terencana terstruktur
Wawancara terencana terstruktur adalah suatu bentuk wawancara dimana pewawancara menyusun terlebih dahulu secara terinci pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan menurut pola tertentu dengan menggunakan format yang standar.
2. Wawancara terencana tidak terstruktur
Pewawancara menyusun rencana dan menyiapkan materi tetapi tidak terinci menurut format tertentu.
3. Wawancara bebas
Wawancara bebas adalah pewawancara tidak diikat atau diatur oleh suatu pedoman tertentu dan individu yang diwaancarai mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya.

4. Skala (rating scale)
Skala bertingkat menggambarkan sesuatu nilai tentang suatu objek evaluasi berdasarkan pertimbangan (judgement). Skala bertingkat dapat berupa :
• Skala angka
Skala angka ialah apabila skor yang diberikan seseorang tentang keadaan objek evaluasi dapat dilambangkan dengan angka.
• Skala grafik
Skala bertingkat dalam bentuk grafik banyak digunakan karena dapat mengurangi kesalahan-kesalahan atau “bias” dalam mengisinya. Skala bentuk ini dapat digambarkan dalam suatu garis dalam jarak yang sama dari yang rendah kepada yang tinggi.

Beberapa langkah dalam menyusun skala:
• Komposisi item dalam satu kesatuan
 Susun sejummlah item yang hanya mencakup satu dimensi saja
 Pernyataan positif dan negative hendaklah diskor dengan cara yang berlainanan
• Pemilihan alternative jawaban
 Tentukan berapa pilihan yang akan digunakan lima, tujuh atau Sembilan
 Alternative yang dipilih adalah mudah dipahami siswa
• Urutan butir (item) soal
 Hendaklah ditetapkan secara acak (random)
 Sediakan waktu secukupnya sehingga setiap butir dapat diisi sesuai dengan keadaan sebenarnya.
 Format dan perwajahan instrument perlu diperhatikan dengan seksama oleh penyusun skala, mudah dibaca, mudah dipahami, dan diisi serta indah dilihat.

5. Sosiometri (Socyometry)
Sosiometri merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui hubungan yang ada diantara anggota dalam satu kelompok. Sosiometri mula-mula dikembangkan oleh Moreno (1934) dengan publikasinya “ who shall survive” guru dapat menggunakan teknik ini untuk mengetahui struktur social kelas, pemilihan bintang kelas, teman belajar kelompok dan sebagainya. Dalam memahami hubungan siswa di sekolah ada beberapa cara yang digunakan :
• Teknik nominasi
Pada teknik ini siswa memilih nama yang terbatas jumlah dari kelompok mereka.
• Model skala bertingkat
Sosiometri dengan model skala bertingkat
• Model who’s who
Teknik ini lebih baik digunakan untuk memahami atau mengerti tentang kesukaran murid dalam hubungannya dengan teman yang lain.

6. Ceklis (check list)
Cheklist dan skala bertingkat mempunyai tipe yang sama. Pada checklist sejumlah pernyataan atau pertanyaan terpilih oleh pengamat atau responden, kemudian mereka membubuhkan tanda chek pada tempat yang telah disediakan.

Kegunaan checklist adalah :
• Mendorong pembelajaran kea rah yang lebih baik. Dengan menggunakan checklist guru akan dapat mengetahui cara kerja guru dan proses kerja, juga dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa.
• Membantu dalam perencanaan kurikulum. Informasi yang didapat dengan menggunakan checklist dalam proses belajar mengajar seperti isi prestasi pelajaran dapat dijadikan input dalam penyempurnaan kurikulum berikutnya.
• Perbaikan dalam administrasi sekolah

7. Portopolio
Portofolio merupakan suatu bentuk penilaian yang lebih kompleks, dan mencakup semua komponen yang dijadikan portfolio, dalam suatu bidang dan tingkat pendidikan. Portofolio dapat diartikan juga sebagai suatu upaya terorganisir untuk menemukan bukti-bukti, fakta maupun keterangan tentang kemajuan akademik, prestasi belajar, keterampilan maupun sikap siswa. Portofolio mencakup sampel kerja (work samples) dan laporan tertulis berkenaan dengan sampel kerja yang diportofoliokan.
Selain itu portofolio dapat juga berupa sekumpulan file yang terdiri atas topic pilihan tugas atau pekerjaan yang telah dan akan diselesaikan siswa dalam satu semester, satu tahun, atau sejak masuk sampai selesai menjadi siswa atau mahasiswa, tergantung tujuan penggunaan portofolio. Pada prinsipnya, portofolio juga dapat berisi macam-macam informasi misalnya, untuk keperluan menyimpan data sekolah, maka dapat berisi semua mata pelajaran, atau bahkan semua nilai rapor siswa selama belajar di sekolah tersebut.
Secara sederhana, langkah-langkah dalam pembuatan portofolio :
• Persiapan untuk menggunakan portofolio. Pada langkah ini sekolah atau lembaga harus mengembangkan suatu program portofolio dengan menentukan tipe yang digunakan, mengidentifikasi tujuan portofolio, memilih kategori sampel kerja yang akan diportofolio, siswa memilih hasil kerja terbaiknya yang akan mewakili mereka, dan juga memahami bagaimana criteria penilaian terhadap hasil kerja mereka.
• Menata portofolio sesuai dengan waktu yang terdapat dalam kurikulum. Pada tahap ini lembaga, sekolah, atau tenaga pendidik yang bertanggung jawab hendaklah betul-betul menjelaskan proses portofolio, mulai dari kategori sampel kerja, mengembangkan rubric dan assignment.
• Menata proses portofolio pada periode pemberian angka. Pada tahap ini pemberian angka atau skor berdasarkan pertimbangan kualitas dan kuantitas hasil karya dan dasar-dasar rasional yang dituliskan dalam berbagai laporan tertulis atau rubric yang menyertai sampel kerja tersebut. Matriks penilaian atau pedoman penilaian yang akan digunakan telah diberitahu pada saaat awal portofolio yang akan dialksanakan. Pada akhir penilaian dilakukan konfrensi antara tim penilai, guru, dan siswa, untuk mengetahui tanggapan dan pendapat dari mereka tentang nilai tersebut.

8. Bentuk Laporan
Laporan kerja merupakan salah satu dasar autentik yang merefleksikan apa yang telah siswa lakukan selama kegiatan lapangan atau kerja proyek. Ada 3 teknik evaluasi yang digunakan untuk menilai bentuk-bentuk laporan kerja proyek yaitu : laporan proyek, log atau buku harian, laporan kegiatan.

a. Laporan proyek
Praktik industry, magang, dan kerja lapangan merupakan kegiatan penting yang sering dilakukan oleh para siswa di sekolah menengah terutama mereka yang menekuni bidang keahlian pendidikan kejuruan. Laporan proyek atau laporan kerja dibuat setelah periode atau waktu tertentu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Laporan proyek dinilai baik oleh pihak industry maupun oleh guru pembimbing siswa.
Beberapa komponen dalam melakukan penilaian laporan proyek:
• Sistematika laporan
• Kelengkapan (keahlian yang diperoleh selama praktek industry atau kerja lapangan dan substansi laporan)
• Tata tulis laporan
b. Laporan log atau buku harian
Laporan log atau buku harian merupakan catatan harian yag dilakukan secara kontiniu yang mungkin dicatat dalam periode waktu tertentu. Log digunakan untuk mencatat kegiatan sekolah yang dilakukan secara kontiniu. Laporan log dapat digunakan untuk mengevaluasi kegiatan siswa dan merupakan alat ukur yang pelaksanaannya memerlukan penuangan idea tau reaksi siswa sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan selama mendapat tugas dari guru.

c. Laporan kegiatan
Laporan kegiatan digunakan untuk menilai tugas khusus yang dapat dikerjakan di rumah, di sekolah, atau dimasyarakat yang menjadi tugas para siswa. Laporan kegiatan digunakan untuk menevaluasi kegiatan siswa dan merupakan alat ukur yang pelaksanaannya memerlukan penuangan idea tau reaksi siswa sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan selama mendapat tugas dari guru.
Laporan log dan laporan kegiatan dapat digunakan secara efektif dalam tiga hal yaitu :
• Memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan evaluasi diri sendiri atau self evaluation.
• Mudah pembuatannya
• Mudah diadaptasi pada hamper semua kegiatan pendidikan terutama pada tingkat menengah ke atas.
Buku harian atau log merupakan evaluasi yang sangat efektif untuk mencatat perkembangan anak, hubungan keluarga, dan juga perkembangan pengelolaan kelas atau sekolah. Laporan kegiatan sangat baik untuk kegiatan manajemen sekolah yang mencakup penggunaan keuangan dan penggunaan ruang dalam proses belajar mengajar.

C. KRITERIA SUATU INSTRUMEN NON TES YANG BAIK
Kriteria suatu instrument non tes yang baik apabila memenuhi,
1. Validitas.
Artinya sejauh mana ketepatan atau kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Suatu alat ukur yang valid tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut.
Alat ukur yang valid adalah yang memliki varians error (varians kesalahan/keragaman kesalahan) yang kecil, sehingga angka yang dihasilkannya dapat dipercaya sebagai angka yang sebenarnya atau angka yang mendekati keadaan yang sebenarnya.

Menentukan validitas item
Untuk menentukan validitas item digunakan rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (1997, hal. 69) :
rxy =
Dengan:
rxy = koefisien valisitas item
N = jumlah pengikut tes
X = skor item
Y = skor total
Selanjutnya harga koefisien korelasi ini dibandingkan dengan harga koefisien korelasi dengann tabel r product moment.

2. Reliabilitas
Reliabilitas mempunyai berbagai nama lain seperti keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi dan lainnya. Reliabelitas adalah sejumlah hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah. Dalam hal ini relatif sama berarti tetap adanya toleransi terhadap perbedaan- perbedaan kecil diantara hasil beberapa kali pengukuran. Bila perbedaan itu sangat besar dari waktu ke waktu maka hasil pengukuran tidak dapat dipercaya atau dikatakan tidak reliabel. Reliabilitas alat ukur erat berkaitan dengan masalah eror pengukuran. Eror pengukuran menunjuk pada sejauhmana inkonsistensi hasil pengukuran tejadi apabila pengukuran dilakukan ulang pada kelompok subjek yang sama.

Menentukan reliabilitas angket
Untuk menentukan reliabilitas angket digunakan rumus alpha seperti yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (1997)

Dengan:
r11 = reliabilitas instrumen
n = jumlah butir item
σi2 = jumlah varians skor total tiap-tiap angket
σt2 = varians total
dengan kriteria sebagai berikut :
0,800 ≤ r11 ≤ 1,000: reliabilitas sangat tinggi
0,600 ≤ r11< 0,800 : reliabilitas tinggi
0,400 ≤ r11<0,600 : reliabilitas cukup
0,200 ≤ r11< 0,400 : reliabilitas rendah
0,000 ≤ r11< 0,200 : reliabilitas sangat rendah

About these ads

About vivifebriyantiwordpress

Guru SMA Negeri 1 Kamang Magek
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s